Apakah Psikologi Itu Sains?

Photo by Maximilian Bungart on Unsplash 

Sejak kemunculannya pada abad ke-19, psikologi berusaha keras untuk diakui sebagai sebuah sains. Dengan mengadopsi metode eksperimen, statistik, dan teknologi seperti pencitraan otak, psikologi berhasil menjelaskan banyak hal tentang pikiran dan perilaku manusia.

Pendekatan psikologi sebagai sains jelas membawa banyak manfaat. Ia memperkaya pengetahuan dengan teori-teori yang terbukti, seperti prospect theory yang menjelaskan cara manusia mengambil keputusan dalam kondisi tidak pasti.

Psikologi juga memberi dampak nyata pada kebijakan publik, misalnya membantu meningkatkan tabungan pensiun, mendorong kepatuhan pajak, atau memperkuat kampanye vaksinasi. Selain itu, label “sains” membuat psikologi lebih dipercaya publik dan lembaga donor.

Namun, ketika membaca artikel (When) should psychology be a science? karya Dario Krpan, saya kembali mempertanyakan satu pertanyaan klasik: Apakah psikologi itu (benar-benar) sains?

Dalam dunia akademik, sebuah teori dianggap ilmiah jika fenomena yang dibahas dapat diukur dan bukti yang mendukungnya bisa diulang serta diverifikasi.

Misalnya, klaim bahwa musik Mozart meningkatkan kecerdasan hanya bisa disebut ilmiah jika kecerdasan dapat diukur dan terbukti meningkat saat mendengarkan musik tersebut.

Meski begitu, tidak semua ide yang belum bisa diuji otomatis dianggap tidak ilmiah. Ada perbedaan penting antara “nonsains” dan “pseudosains.” Nonsains merujuk pada teori atau gagasan yang belum bisa diuji karena keterbatasan teknologi atau metode, tetapi suatu hari mungkin bisa diuji.

Sebaliknya, pseudosains adalah klaim palsu yang seolah-olah sudah terbukti padahal tidak. Contoh klasik pseudosains adalah phrenology, yang mengklaim bentuk tengkorak menentukan kepribadian.

Dario Krpan menekankan bahwa psikologi tidak selalu harus dipaksa menjadi sains, karena ada ruang bagi ide-ide besar yang menunggu saatnya untuk diuji.

Ada sejumlah tema yang lebih tepat disebut nonsains, karena keterbatasan teknologi, etika, atau kondisi sosial saat ini.

Misalnya, penelitian tentang pengalaman psikologis yang ekstrem seperti seorang individu yang tiba-tiba meninggalkan gaya hidup mewah dan beralih menjadi sangat sederhana. Fenomena ini penting untuk dipahami, tetapi sulit diukur dengan instrumen ilmiah yang ada.

Contoh lain adalah batas kemampuan manusia dalam menghadapi krisis global, seperti perubahan iklim. Memahami bagaimana manusia bisa mencapai transformasi sebesar itu adalah pertanyaan penting, tetapi belum bisa diteliti secara empiris dengan metode yang tersedia.

Ada juga topik yang menyentuh fenomena di luar jangkauan observasi langsung, seperti precognition (kemampuan meramal masa depan) atau telepati. Walaupun menarik, mekanisme yang mungkin mendasarinya berada pada level fisika yang sangat fisika, sehingga (mungkin) belum bisa ditangkap oleh teknologi psikologi modern.

Selain itu, ada tema yang tidak etis untuk diteliti, seperti kondisi mental manusia jika kelaparan berkepanjangan. Walaupun penting untuk dipahami, eksperimen semacam ini tidak bisa dilakukan secara etis, sehingga hanya bisa dikembangkan melalui teori konseptual.

Terakhir, ada topik yang berkaitan dengan situasi sosial atau politik yang belum ada di dunia nyata, misalnya bagaimana perilaku manusia akan terbentuk dalam sistem ekonomi atau politik yang sama sekali baru, atau dalam lingkungan fisik buatan yang belum pernah ada.

Topik-topik ini hanya bisa dibayangkan dan dikembangkan secara teoritis, bukan diuji secara empiris sekarang. Karena itu, beberapa ahli menyarankan agar psikologi meniru fisika dengan memisahkan teori dan eksperimen.

Misalnya, dengan pendekatan non-empirical theorizing, psikologi bisa mengembangkan ide-ide logis yang belum bisa diuji sekarang, tetapi suatu hari dapat diuji ketika teknologi dan metode berkembang.

Jalan tengah ini memungkinkan psikologi tetap menjadi sains ketika fenomena bisa diukur, sekaligus memberi ruang bagi gagasan konseptual yang memperluas cakrawala pengetahuan.

Maka, jawaban atas pertanyaan “Apakah psikologi itu sains?” adalah ya, tetapi tidak selalu harus begitu. Psikologi adalah sains ketika fenomena dapat diuji, namun ia juga bisa menjadi wadah bagi ide-ide besar yang kelak akan memperkuat fondasi ilmiahnya di masa depan.

Komentar